Selamat Membaca SBR

Untuk anda, para pembaca situs blog ini, semoga ada manfaat yang bisa anda dapatkan. Silakan tulis komentar anda dibawah. Saran dan kritik sangat kami tunggu.

Minggu, 25 September 2011

Membongkar Krisis Ganda Ekonomi Liberal

Judul Buku    : Bonfire of Illusions
Pengarang     : Alex Callinicos
Penerbit        : Polity Press, 2010
Tebal             : viii + 179 halaman

Alex Callinicos adalah Profesor Studi Eropa di King's College London, tapi lebih penting lagi dia adalah sosok yang mampu berkomitmen untuk menggunakan analisis Marxis pada kerja kapitalisme pada tataran ekonomi dan politik internasional. Sementara banyak analis sejarah dunia akhir-akhir ini umumnya kurang becus menganalisis apa yang sedang terjadi karena terjebak dalam paradigma apalogetik pada kapitalisme dan pemahaman agak membingungkan tentang faktor-faktor yang bekerja dalam kapitalisme itu. Dalam kaitan ini, buku 'Bonfire of Illusions', The Twin Crises of Liberal World tentu menyegarkan, jelas dan dikemas penuh dengan penjelasan dan bukti .

Secara mengejutkan, Callinicos mengidentifikasi salah satu dari dua krisis Dunia Liberal setelah keruntuhan keuangan 2007-09. Tapi meskipun banyak akan mengharapkan serangan terhadap menara kembar menjadi krisis utama lainnya, Callinicos bukan mengidentifikasi sebuah peristiwa yang memiliki efek yang lebih mendalam tentang peran AS di dunia politik, perang antara Rusia dan Georgia pada tahun 2008.

Jumat, 19 Agustus 2011

Pemikiran Baru Ekonomi Terorisme

Judul Buku    : Radical Religious and Violent
Pengarang     : Eli Berman
Penerbit         : MIT Press, AS
Cetakan         : I, 2009
Tebal              : xi + 300 halaman

KAJIAN-kajian terorisme kini bukan cuma seputar keamanan serta aspek-aspek hukum yang melingkupinya, melainkan kajian itu sudah memasuki wilayah beragam dengan berbagai interaksinya pada disiplin keilmuan lainnya. Hal itu menjadikan terorisme sebagai suatu subyek kajian atau penelitian kemudian tidak lagi bisa dipisahkan dari sudut-pandang apa yang membingkainya. Manakala sudut-pandang itu berpangkal pada psikologi, maka kajian-kajian yang dihasilkannya sangat kental nuansa psikis serta paparan seputar mentalitas dan struktur kejiwaan.

Demikian juga dengan penulis buku ini, Eli Berman. Ia adalah mantan orang lapangan yang terjun langsung ke sejumlah lokasi-lokasi sasaran aksi terorisme dan juga ia berinteraksi langsung pada kelompok-kelompok tersebut. Dari hasil penelitiannya yang cukup lama serta mendalam itulah, Eli yang juga guru besar ekonomi di University California, San Diego, AS ini mencoba menyelami dimensi ekonomi dari terorisme. Bukan berarti dampak ekonomi dari aksi terorisme, melainkan apa latar-belakang pemahaman ekonomi dari para pelaku aksi terorisme tersebut.

Senin, 15 Agustus 2011

Ketika Sang Naga Melirik Benua Hitam

Judul Buku       : The Dragon's Gift
Pengarang        : Deborah Brautigam
Penerbit            : Oxford University Press
Cetakan            : I, 2009
Tebal                 : xv + 397 halaman

Pada beberapa tahun belakangan, pemerintah Cina sangat masif memberikan bantuan, baik dana maupun perhatian besar, pada benua hitam Afrika. Tentu saja, perhatian inilah yang sangat meresahkan banyak perusahaan-perusahaan asing. Mereka melihat kedekatan Cina dengan Sudan, bahkan sejumlah warga biasa Cina sudah mulai menyatu dengan warga Sudan dalam perdagangan, jelas merupakan ancaman serius bagi masa depan bisnis perusahaan Eropa dan AS.

Apalagi selama beberapa dekade terakhir, Beijing telah mengalirkan uang ke benua itu, melakukan transaksi dengan para kepala pemerintahan, pengusaha Afrika dan kelompok-kelompok tertentu, yang dicurigai oleh para para pengusaha Barat atau kepala pemerintahan mereka sebagai upaya Cina mencari sekaligus menjarah sumber daya alam untuk bahan bakar pertumbuhan tanpa henti. Istilah pejoratif yang selalu digunakan adalah invasi Cina ke benua Afrika yang menampilkan wajah moralitas untuk para pejahat Afrika. Jelas, istilah semacam ini boleh dikata merupakan ingatan kolektif masyarakat Barat terhadap kenyataan di Afrika dan Asia.

Senjata paling jitu yang selalu disuarakan oleh para peneliti Barat adalah Hak asasi manusia yang menepis kekhawatiran, lingkungan rusak, bisnis lokal hancur, dan korupsi yang dipandang endemik. Semua itu secara sinis ditudingkan ke realita semakin dekatnya Cina pada negara-negara Afrika, termasuk Sudan. Kasus lepasnya Sudan Selatan mungkin masih menyisakan duka mendalam, betapa kampanye hitam peneliti Barat pada Sudan sudah sangat keterlaluan, bahkan cenderung main tuding tanpa fakta. Kasus itu sendiri bermula dari persoalan konflik di Darfur yang tak berkesudahan dan dianggap telah melanggar HAM sebagai akibat dari tata pemerintahan yang buruk dari Jenderal Omar Bashir.

Dalam konteks Sudan itu, Cina semula dianggap tutup mata dan tak ambil pusing karena apapun yang terjadi di dalam negeri Sudan bukanlah urusan pemerintah Cina. Urusan pemerintah Cina kepada Sudan adalah berkaitan pada eksplorasi sumber daya alam Sudan, bukan dalam urusan politik. Sikap Cina semacam itu kemudian menimbulkan kecaman bertubi-tubi dari komunitas Barat. Tekanan pun terus berlanjut ke Cina, hingga kemudian Cina harus menghadapi fakta sulit dituding sebagai negara paling menjijikkan karena mendukung rezim penguasa lalim di Afrika.

Ini adalah gambar merajalelanya neo-kolonialisme yang dianggap sebagai rujukan oleh banyak orang di Barat. Tapi sebenarnya ada gambaran agak berbeda, yang menjelaskan mengapa beberapa pemimpin Afrika lebih visioner merangkul kemajuan Cina, ketimbang bersetubuh dengan Barat. Pemerintah Afrika bersikap realistik untuk mencermati Cina sebagai negara yang punya prospek untuk mendongkrak kemajuan Afrika, lebih dari sekadar melihat Afrika sebagai benua yang siap dieksploitasi.

Buku karya akademis dari periset AS Deborah Brautigam, pengamat dari Afrika dan Asia selama tiga dekade, muncul pada saat yang tepat. Ia menggunakan pengalaman pribadi dikombinasikan dengan penelitian kualitatif yang kuat terhadap mitos menakutkan bahwa telah berkembang awan pemahaman dari salah satu pergeseran geopolitik paling penting sejak jatuhnya Tembok Berlin.

Contohnya Angola, sebagaimana ditulis Brautigam, adalah salah satu pameran utama dalam paduan suara kecaman negara-negara Barat terhadap Cina. Dikutuk dengan sumber daya alam minus, negara itu lumpuh selama lebih dari 40 tahun akibat menjadi medan pertempuran selama Perang Dingin, muncul dengan infrastruktur rusak, utang besar dan pemerintahan yang korup.

Dana Moneter Internasional kemudian menuntut adanya tindakan pembersihan dan mulai mendorong pemberlakuan akuntansi pendapatan minyak yang membengkak, ketika Cina diduga ngotot tetap mempertahankan kesepakatan bantuan dengan kondisi lama, hal itu jelas mengalahkan perjuangan untuk transparansi dan memprovokasi kemarahan internasional.

Kenyataannya adalah lebih membosankan. Cina menawarkan pinjaman berbunga rendah, bukan bantuan, dengan pembayaran jaminan dari pendapatan minyak. Dan uang itu harus dihabiskan membangun kembali bangsa yang hancur yang telah melihat 300 jembatan dibom dan bertebaran ranjau darat. Ini adalah kesepakatan berisiko, tapi menawarkan harapan bahwa beberapa kekayaan Angola mungkin diterjemahkan ke dalam pengembangan untuk pertama kalinya.

Benar saja, jalan yang dibangun kembali dan sekolah-sekolah didirikan. Sementara itu, bank-bank Barat memberikan pinjaman tanpa menuntut transparansi, dikenakan suku bunga lebih tinggi dan bahkan mengekspor minyak Angola, memastikan uang yang terus mengalir ke pundi-pundi politisi.

Keterlibatan Cina di Angola sekaligus mengkonter klaim IMF sebelumnya bahwa Cina hanya menjarah kekayaan Afrika, dan hanya membangun infrastruktur dalam rangka mengangkut keluar sumber daya alam. Minyak Angola berlokasi pada lepas pantai, namun Cina telah membangun rumah sakit, sekolah sistem irigasi, dan jalan darat.

Memang, tidak seperti donor Barat, yang cenderung memiliki negara favorit mereka, Cina telah memberikan bantuan ke setiap negara di sub-Sahara Afrika - kecuali negara-negara yang mendukung Taiwan, dengan siapa Cina telah terlibat dalam sesuatu dari perang penawaran pinjamanndi seluruh benua.

Kasus Angola menunjukkan dua tema yang muncul jelas dari buku penting ini. Pertama, kemunafikan tak berujung Barat seperti jam tangan perjalanan panjang dari Cina melalui Afrika. Para kritikus, sering sayangnya kurang informasi, mengabaikan sejarah Barat sendiri yang eksploitasi, mendorong korupsi dan mendukung rezim menjijikkan.

Bahkan setelah 60 tahun bantuan Barat, masih ada keengganan untuk menerima kegagalan untuk mempromosikan pembangunan atau mengatasi kemiskinan. Kedua, ada wawasan yang menarik dalam cara Cina mengembangkan kebijakan, cetakan mereka untuk pengalaman, mendengarkan kritik dan tidak pernah takut untuk bereksperimen dalam mengejar tujuan jangka panjang. Seperti kata Deng Xiaoping dalam penggalian di lompatan besar Mao, jika Anda melintasi sungai yang terbaik adalah dengan menjaga kaki Anda di bagian bawah dan merasakan batu-batu.

Brautigam mengatakan strategi Cina, berdasarkan model yang sudah diuji di negara sendiri selama pertumbuhan fenomenal, dirancang untuk memenuhi tiga tantangan. Pertama, untuk memasuki kekayaan alam Afrika karena pertumbuhan Cina melampaui sumber daya sendiri. Kedua, untuk meyakinkan negara-negara berkembang lainnya bahwa sementara Cina adalah kekuatan yang meningkat, itu adalah sebuah kekuatan yang bertanggung jawab - sementara juga menghadapi tantangan Taiwan. Dan ketiga, untuk menciptakan pasar baru bagi perusahaan multinasional yang baru lahir.

Diperkirakan, ada sekitar 3.000 pekerja bantuan Cina, termasuk 34 ahli medis. Tidak seperti pekerja bantuan Barat, mereka hidup dalam gaya yang serupa dengan penduduk setempat. "Bagaimana Anda dapat mengurangi kemiskinan, tetapi tinggal di sebuah hotel bintang lima?" kata seorang ahli Cina tajam.

Pada akhir 1980-an, saat perusahaan Barat ditarik keluar dari apa yang dicap sebagai "benua gagal" Afrika dan bantuan untuk infrastruktur mengering, Beijing justru melihat Afrika sebagai tanah berpeluang. Barat gagal melihat tim Cina mengelola pabrik-pabrik milik negara, membangun jembatan dan memperbaiki sistem irigasi. Pasar di seluruh benua mulai menjual tekstil dan mangkuk logam dibuat di Cina.

Metode Cina yang ketat. Ketika Liberia meminta Cina untuk merehabilitasi pabrik gula tebu dan perkebunan, itu mengharapkan sebuah respon cepat dan positif. Selama dekade terakhir, hubungan antara Cina dan Afrika telah semakin rapat, dengan modal politik yang cukup besar diinvestasikan pada kedua sisi.

Beberapa tahun kemudian, sektor kulit berkembang pesat dan perusahaan sepatu yang masih hidup telah diasah sampai bersaing secara efektif. Brautigam juga menunjukkan kasus menarik, bahwa sementara ada kekhawatiran atas jumlah orang Cina yang bekerja di Afrika, terutama pada tingkat yang lebih senior, tingkat staf Cina menurun dari waktu ke waktu dan pekerjaan lokal didorong.

Penulis menyimpulkan bahwa Afrika merangkul Cina sangat strategis, jangka panjang dan masih berkembang - dan itu terserah kepada para pemimpin Afrika untuk membentuk hubungan guna melayani tujuan mereka sendiri. Barat, katanya, harus mengakui kekurangan dari pendekatan sendiri dan belajar dari cara investasi Cina menggunakan, perdagangan dan teknologi sebagai tuas untuk pembangunan. (Rosdiansyah - peresensi Surabaya Readers Club)

Selasa, 26 Juli 2011

Terlupakan, Pengaruh Ibrani dalam Pemikiran Politik

Judul Buku    : The Hebrew Republic: Jewish Sources and the Transformation of European   Political   Thought
Penulis       : Nelson Eric
Penerbit      : Harvard University Press
Tebal         : 229 halaman
Cetakan       : Pertama, 2010

Selama beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan minat apa yang kemudian disebut "Hebrew Political Tradition'' (Tradisi Politik Ibrani), meskipun sayangnya bidang ini berkembang telah teracuni oleh motivasi ideologis dan kesarjanaan yang tak jelas.

Judul buku yang lebih memilih kata tradisi politik "Hebrew" (Ibrani) daripada tradisi politik "Jewish'' (Yahudi) jelas merupakan suatu upaya untuk membayangkan dunia politik yang termasuk dalam Yudaisme "pra-pembuangan" (pre-exilic) yang tak ada hubungannya dengan realitas historis bangsa yahudi namun lebih banyak kaitannya dengan agama dan imajinasi nasional .

Buku ini merupakan sebuah penelitian yang cermat terhadap fantasi modern awal tentang "Republik Ibrani" (Hebrew Republic), bukan 'Republik Yahudi' (Jewish Republic). Karya ini adalah pekerjaan yang sangat ilmiah dan ditulis dengan baik, yang sebagian besar berhasil dalam menjelajahi data-data sejarah yang solid, dan jauh dari godaan ideologi kotor.

Buku Eric Nelson ini ditulis tepat pada waktunya karena belakangan terlihat upaya kuat di kalangan pemikir politik yang sangat dipengaruhi semangat modernitas untuk menjadikan sekularisme sebagai kemenangan terang fajar baru melawan kekuatan kegelapan yang berpangkal dari pemahaman sempit keagamaan, etnisitas atau rasialisme.

Namun demikian, berlawanan dengan ideologi sekularisme, Nelson berpendapat, bahwa beberapa elemen kunci dari pemikiran politik modern sesungguhnya dimotivasi oleh keyakinan agama dan kepercayaan.

Dijelaskan penulis buku ini, bahwa ahli teori politik dari abad keenam belas dan ketujuh belas, tidak seperti pendahulu mereka dari masa Renaissance, justru tidak mengikuti warisan pagan Yunani dan Roma sebagai sumber utama inspirasi mereka, melainkan merujuk ke Alkitab bahasa Ibrani dan sastra rabinik (sastra para rabbi Yahudi) yang menyediakan model dari pemikiran ideal, konsep ilahi, negara.

Dalam tiga bab dari buku ini, Nelson mencoba untuk menunjukkan bagaimana awal pemikiran modern bergantung pada sumber-sumber Yahudi dalam memperkenalkan dan mempertahankan tiga unsur utama pemikiran politik modern: eksklusivisme republik (yaitu, penolakan monarki), redistribusi kekayaan, dan toleransi beragama.

Lebih jauh, persepsi dari Alkitab berbahasa Ibrani, klaim Nelson, secara bertahap menghilang pada abad kedelapan belas. Di mana pembaca abad ketujuh belas begitu banyak telah menemukan toleransi, kebebasan republik, dan kesetaraan, nuansa sastra abad kedelapan belas cenderung untuk mendeteksi hanya kebiadaban, legalisme despotik, dan kekhususan chauvinistic ( hlm 139).

Namun, Nelson juga mengklaim, bahwa situasi itu akan menjadi sebuah kesalahan proyeksi para filsuf memahami  Alkitab Ibrani ke dalam abad keenam belas dan ketujuh belas.

Klaim utama Nelson tersebut tentu sangat mengejutkan dan berani dan awalnya meninggalkan para pembaca skeptis terhadap buku ini, namun Nelson berhasil menggali  cukup bukti, yang meskipun tidak konklusif, masih menyajikan sejarah awal pemikiran politik modern dalam paparan yang menarik dan tidak dikenal selama ini sehingga memancing studi atau riset lebih lanjut.

Buku ini dimulai dengan survei Renaissance dan Hebraisme (keyahudian) modern awal - "penemuan" Barat Kristen dan terjemahan literatur rabinik yang ditulis oleh tokoh-tokoh seperti Erasmus, Reuchlin, Sixtinus Amama, Sebastian Münster, yang Buxtorfs, Yusuf Yustus Scaliger, dan John Selden.

Kemudian beralih ke topik pertama, yakni eksklusivisme republik. Menurut penulis, keseragaman monarki dianggap  setidaknya salah satu bentuk yang sah dari pemerintahan sampai awal abad ketujuh belas.

Namun pada akhir abad yang sama muncul suara-suara yang jelas menolak monarkisme sebagai pemikiran yang tidak sah. Dalam bab pertama buku ini, Nelson berpendapat bahwa penjelasan terbaik bagi munculnya eksklusivisme republik terletak pada penemuan kontemporer dari Alkitab Ibrani dan sumber-sumber rabinik yang mendiskualifikasi monarki sebagai bentuk penyembahan berhala. Oleh karena itu, sistem monarki merupakan sistem yang identik dengan penyembahan berhala.

Upaya kedua Nelson yang tersebar dalam bab di buku ini adalah menelusuri perkembangan penting lain dalam sejarah pemikiran politik: pendahuluan redistribusi ke dalam arus utama teori politik republik. Menurut penulis, sampai awal abad ketujuh belas, ahli teori politik modern masa awal yang menggagas adanya redistribusi tanah yang konsisten secara dominan dalam sumber-sumber sejarah Romawi.

Padahal, Nelson menunjukkan bahwa perubahan besar dalam pemikiran teori republik ini terinspirasi oleh hukum alkitabiah dari Jubilee: kembalinya tanah kepada pemilik asli mereka setiap tahun lima puluh (Imamat 25: 13-24). Kemudian, dokumen-dokumen yang dihimpun Nelson dibandingkannya terhadap hukum Alkitab, komentar Rabbinik pada Alkitab, dan isi diskusi Maimonides 'dari Jubilee dalam kode hukum.  Semua dokumen itu sejalan dengan pembenaran redistribusi agraria oleh penulis seperti Petrus Cunaeus dan James Harrington.

Dia menegaskan bahwa sumber-sumber berbahasa Ibrani telah membuka 'cara ketiga' dalam pemikiran modern republik, diantaranya bukan terkait pada perlindungan maupun penghapusan milik pribadi, melainkan pada wacana redistribusi" (hlm 86).

Dalam bab ketiga, Nelson menyuguhkan paparan terpanjang bertajuk - "Teokrasi Ibrani dan Kebangkitan Toleransi". Dalam paparan ini, Nelson berpendapat bahwa imajinasi res-publica yang bersifat Hebraeorum merupakan sumber utama inspirasi bagi pendukung awal masa modern dari wacana toleransi agama dan Erastianisme.

Nelson menunjukkan secara meyakinkan melalui pendekatan berulang-ulang dari para pendukung toleransi agama terkait elemen toleran dalam hukum Rabbinik, seperti pandangan bahwa penerimaan Yudaisme bukan "satu-satunya cara untuk keselamatan" (yaitu, bahwa bangsa-bangsa lain juga memiliki saham di dunia yang akan datang) .

Sumber utama Yahudi utama yang dirujuk untuk membuktikan sifat Erastian negara Yahudi kuno ini semestinya Josephus, dan ini bukan secara kebetulan. Siapa pun yang akrab dengan literatur rabinik tidak bisa tidak akan terkejut dengan anggapan Erastianisme terhadap budaya ini. Sementara sastra rabinik biasanya sangat polifonik - meninggalkan sedikit, jika ada, isu-isu tak tertandingi - sulit untuk menemukan sumber Rabbinik mendukung intervensi otoritas sekuler (Yahudi atau bukan Yahudi) dalam hal-hal terkait Rabbinik.

Namun, uraian Nelson tersebut bukannya tanpa kritik. Justru para pakar sastra Rabbinik lain juga melihat bahwa dalam keadaan normal hukum rabinis memungkinkan (pada kenyataannya, membutuhkan) seseorang untuk melanggar hampir semua perintah guna menyelamatkan nyawa. Pada saat upaya oleh otoritas eksternal untuk campur tangan secara paksa terhadap hukum agama, aturan Talmud yang satu ini diperlukan demi mengorbankan hidup seseorang bahkan pada isu-isu kecil seperti cara yang tepat mengikat sepatu.

Demikian pula, sumber Rabbinik (serta nabi-nabi Alkitab) jarang menggambarkan raja-raja dan penguasa sebagai jahat. Sementara dokumen Nelson yang merujuk pada awal Hebraists modern yang mengambil Sanhedrin Agung (pengadilan tertinggi Rabinis kuno) sebagai organ sipil, justru ini sangat jauh dari pandangan penulis Rabbinik sendiri.

Karya Nelson memberikan kontribusi penting dan perintis untuk mempelajari teori politik modern, meskipun layak dipertanyakan adanya teks Rabbinik merupakan sumber yang sebenarnya dari tiga doktrin dibahas dalam buku ini.

Akhirulkalam, seharusnya arah baru kajian pemikiran politik Eropa modern yang bersumberkan pada otoritas Alkitab Ibrani (dan sumber Rabbinik) tidak hanya untuk memotivasi aspek yang lebih progresif dari pemerintahan modern, tapi juga fenomena menyeramkan seperti rasisme, perbudakan dari "Anak-anak Ham'', dan bahkan genosida.

(Rosdiansyah, penulis adalah alumni ISS, Den Haag, Belanda)

------------

Selasa, 21 September 2010

Menimbang Langkah Reformasi Radikal

Judul buku    : Radical Reform, Islamic Ethics and Liberation
Pengarang    : Tariq Ramadan
Penerbit        : Oxford University Press,
Cetakan        : Pertama, Mei 2009
Tebal             : 372 halaman

Tariq boleh dikatakan bukan sosok macam ‘like father, like son’. Walau ia adalah keturunan aktivis radikal Ikhwanul Muslimin, Said Ramadan yang diasingkan pemerintah Mesir ke Swiss, namun Tariq jauh dari kesan penampilan sangar. Tariq justru dibesarkan dalam paduan antara tradisi intelektual Eropa yang kritis dan lingkungan keluarga muslim imigran asal Mesir yang taat. Ia tumbuh dalam lingkungan hibrida, antara Islam dan Eropa, jantung pencerahan. Sebagai akademisi Eropa di bidang kajian Islam (Islamic Studies) saat ini, Tariq mengajar di beberapa kampus ternama, selain ia juga terlibat aktif dalam perdebatan intelektual di forum-forum ilmiah.

Tariq menolak anggapan umum, bahwa seorang muslim yang datang ke Eropa lalu menetap di benua, tetap disebut sebagai orang asing. Sebaliknya, Tariq berpandangan bahwa dimanapun muslim telah menetap lama hingga beranak-cucu menjadi warganegara di salah-satu negara Eropa, maka ia berhak untuk menyatakan dirinya sebagai bagian dari sebuah bangsa. Jika ia sudah berwarganegara Eropa sejak beberapa generasi, maka ia berhak meneguhkan dirinya sebagai muslim Eropa (European muslim), bukan muslim di Eropa (muslim in Europe). Salah-satu hak dasar warganegara adalah pengakuan bahwa dirinya adalah bagian sebuah bangsa dari negara dimana ia berada.

Buku ini merupakan sekuel pemikiran Tariq yang ingin membebaskan kajian-kajian keislaman kontemporer dari penafsiran kaku, agar bisa mengikuti perkembangan kajian keilmuan, pengetahuan dan filsafat. Layaknya hasil sebuah riset panjang dan refleksi mendalam atas keberadaan komunitas Islam serta karya-karya kajian keislaman yang sudah ada, Tariq mengurai pemikirannya menjadi tiga buku sebelumnya. Buku pertama Tariq berjudul ‘To Be a European Muslim’ yang menegaskan teks yang tak bisa diubah dan apa yang sedang berubah. Pada buku kedua bertajuk ‘Western Muslims and the Future of Islam’, Tariq mulai menukik pada persoalan-persoalan nyata, seperti komitmen politik, pendidikan, sosial, yang dihadapi kaum muslim di dunia Barat. Sedangkan dalam buku ketiga ‘Islam, the West and the Challenges of Modernity’, intelektual ini mempertanyakan posisi kaum muslim dihadapan keaneka-ragaman modernitas.  

Untuk lebih mempertegas metodologi riset, upaya pembebasan dari kekakuan penafsiran serta menawarkan reformasi radikal, Tariq kemudian menuliskan buku keempat ini. Buku ini memuat 12 bab dalam empat bagian. Pada bagian pertama, penulis menyatakan pentingnya reformasi penafsiran yang tidak terjebak kedalam pembacaan teks-teks hukum belaka. Tariq menawarkan jalan reformasi radikal bertumpu pada etika individu dan masyarakat. Seluruh bangunan agama, filsafat dan ilmu pengetahuan juga bertumpu pada etika. Persoalannya, etika terlalu sering disejajarkan semata pada prinsip-prinsip tertentu yang memisahkan kehidupan individual dan publik, sebagaimana lazim dipahami orang awam terhadap proses sekularisasi. Bagi Tariq, sekularisasi bukan berarti meminggirkan moral, melainkan sekularisasi lebih terkait pada derajat otoritas.

Memasuki bagian kedua yang mencakup empat bab, Tariq segera mengevaluasi karya-karya standar kajian keislaman, baik klasik maupun kontemporer. Setelah mengurai pendekatan deduktif Imam Syafii, pendekatan induktif Imam Hanafi serta kemustahilan memutus teks suci dari konteks implementasi praktis, Tariq kemudian membuat sebuah sintesis (hlm 77-83).  Menurutnya, saat ini permasalahan kaum muslim sudah keluar dari wilayah geografis Timur Tengah, Afrika Utara atau negara-negara mayoritas berpenduduk muslim. Permasalahan mendasar umat muslim terkait kemanusiaan dan lingkungan saat ini justru muncul di negara-negara Barat yang mayoritas penduduknya non-muslim. Selama ini, penafsiran terhadap teks suci yang dilakukan para penafsir otoritatif yang diakui oleh mayoritas muslim ternyata kurang membumi ketika berhadap dengan permasalahan di negara-negara Barat.

Tariq menegaskan, bahwa etika individual dan publik muncul ketika seorang penafsir sangat tahu apa yang sedang dihadapi masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Etika tersebut memang tersirat didalam karya-karya para imam yang dirujuk mayoritas muslim di wilayah geografis Islam, namun disadari atau tidak, etika tersebut sangat terkait dengan budaya, cara pandang serta peri-kehidupan masyarakat setempat. Oleh karena itu, jalan pembebasan etika harus mencermati bagaimana budaya keseharian, cara pandang serta lingkungan dimana masyarakat berada.  

Untuk menegaskan, jalan pembebasan ala Tariq itu berdasarkan pada tiga proposisi yang kemudian ditawarkan pada kajian keislaman, baik di Barat maupun Timur. Pertama, Tariq terlebih dulu membuat perbedaan reformasi adaptif dan reformasi transformatif. Reformasi adaptif membutuhkan ajaran agama, filosofis dan hukum kedalam evolusi masyarakat, ilmu pengetahuan dan dunia. Namun, reformasi transformatif bertujuan secara aplikatif menggunakan perangkat spiritual, intelektual dan ilmiah untuk mengantisipasi kompleksitas permasalahan sosial, politik, filosofis dan tantangan etika. Proposisi kedua, isi serta konteks geografis sumber-sumber hukum Islam juga perlu dipertimbangkan.

Produk hukum yang didalamnya mengandung etika merupakan sublimasi pemikiran sang penafsir terhadap budaya, cara-pandang serta keseharian masyarakat dimana ia berada. Hal ini membawa Tariq pada proposisi ketiga, bahwa pusat perhatian dalam rangka membangkitkan etika untuk membebaskan masyarakat dari kungkungan dogma sempit kini sudah bergeser dari kawasan muslim ke kawasan mayoritas non-muslim. Tentu saja, persoalan yang dihadapi pun jauh lebih majemuk sehingga dibutuhkan kerjasama antara para pengkaji teks sumber Islam dengan para sarjana disiplin ilmu lain.

Bagi masyarakat muslim di Indonesia, tawaran Tariq ini tentu bukan barang baru. Sebab, jalan pembebasan etika Tariq mungkin sama dengan jalan pembumian Islam konteks Indonesia, seperti dipelopori Nurcholish Madjid (alm) dan Abdurrahman Wahid. Lalu, perkara kerjasama antar sarjana agama dan sarjana non-agama, juga sudah dilakukan oleh ormas-ormas keislaman sebelum mereka berpendapat atau menjawab suatu permasalahan. Namun demikian, posisi Tariq yang lahir dari keluarga imigran di lingkungan masyarakat sekular Eropa, mungkin menjadikan buku ini layak untuk disimak. Setidaknya, ada perbandingan, antara proses pembumian Islam di Indonesia dan upaya membumikan Islam di Eropa dan Barat.
* * *
(Diresensi oleh Surabaya Readers Club dan telah dimuat Majalah Tempo )
    

Salah-satu Contoh Resensi...

Mengkritisi Strategi Penataan Birokrasi Berbasis IT

Judul buku    : The Information Revolution and Developing Countries
Pengarang    : Ernest J. Wilson III
Penerbit        : The MIT Press, AS
Cetakan        : Pertama, April 2009
Tebal        : xiv + 431 halaman

Penggunaan Information Technology (IT) di negara-negara berkembang sudah semakin pesat dan memasuki berbagai kebutuhan. Termasuk di Indonesia, khususnya di Surabaya, pemaikaian perangkat canggih berteknologi komputer jejaring itu sudah mulai dirancang sejak memasuki tahun 2000, ketika pemanfaatan komputer semakin merata. Pemerintah daerah, semisal Pemkot Surabaya, semakin menunjukkan kebutuhan yang terus meningkat terhadap pemakaian IT agar bisa menjadikan kerja-kerja birokrasi lebih efektif dan efisien dalam melayani kebutuhan masyarakat.

Studi-studi akademis mengenai dampak IT di negara berkembang pun semakin marak. Salah-satu studi yang fokus pada dampak pemanfaatan IT itu dilakukan oleh penulis buku ini, yang ingin melihat bagaimana dampak sekaligus efektivitas birokrasi di negara berkembang tatkala nyaris semua lini pekerjaan didalam birokrasi sudah terkomputerisasi. Pekerjaan birokrasi memang bisa dipermudah dan dipersingkat melalui penggunaan teknologi informasi, namun untuk sampai pada derajat mengembangkan kemampuan pemanfaatan teknologi itu tentu dibutuhkan sumberdaya manusia yang mumpuni. Oleh karena itu, bagi banyak negara berkembang, SDM di bidang teknologi informasi harus benar-benar dipersiapkan sebelum mengganti semua lini birokrasi dengan pekerjaan berbasis IT.

Untuk menelusuri bagaimana persiapan birokrasi negara berkembang tersebut, penulis buku yang juga gurubesar di bidang ilmu pemerintahan dan politik Universitas Maryland, AS ini memaparkan pemetaan, deskripsi masalah, kerangka analisis, aplikasi IT di tiga negara berkembang, yakni Brazil, Ghana dan China, kemudian ia masuk kedalam analisis seputar revolusi teknologi informasi. Semuanya terangkum kedalam delapan bab, dimulai pada bab awal, dimana penulis sudah menggunakan bingkai analisis ‘strategic restructuring’ (strategi penataan kembali). Bingkai ini merupakan model arsitektur terbuka yang terdiri dari empat determinan berbeda. Pertama, struktur sosial, ekonomi dan politik. Kedua, institusi yang memprakarsai sistem IT, seperti peranannya dan insentif yang diberikan. Ketiga, perilaku strategis elit politik yang mendorong pemberlakuan sistem IT. Keempat, kebijakan pemerintahan, contohnya kompetisi atau monopolistik, asing atau domestik, sentral atau desentralistik. 

Penulis buku ini mengkonseptualisasikan IT, atau ICT (Information Communication Technology), sebagai kekuatan potensial sebagaimana kapital dan tanah. Sejarawan Inggris Eric Hobsbawm menyebutkan, bahwa abad ke-19 merupakan abad kapital. Siapa yang menguasai kapital, maka ia akan menguasai berbagai jalur di pemerintahan, bisnis maupun masyarakat. Memasuki abad 20, mulai terjadi pergeseran ketika revolusi teknologi informasi dan komunikasi menjadi bagian penting dari hajat hidup orang banyak. Maka, muncul paradigma baru, bahwa menguasai IT berarti juga menguasai hajat hidup masyarakat luas. Bahkan penguasaan itu bukan hanya sekadar melayani masyarakat, melainkan juga mengarahkan masyarakat kepada sasaran tertentu. Masyarakat modern yang tergantung pada ICT tidak bisa lagi bebas karena sudah diikat oleh penataan-penataan yang dibuat berdasarkan aplikasi perangkat lunak yang memudahkan sekaligus mempercepat kerja.

Pemerintah tiga negara berkembang memang sangat berminat mengadaptasikan penggunaan ICT untuk masyarakat dan dunia bisnis. Namun, diawal buku, penulis justru terlebih dulu mengurai bagaimana kota ajaib Bangalore, India, bisa berkembang pesat tatkala ICT mulai memasuki kehidupan warga (hlm 63). Sebagaimana layaknya masyarakat negara berkembang, para penduduk Bangalore umumnya adalah masyarakat yang berpegang teguh pada tradisi, kebiasaan serta adat. Hubungan satu warga dengan warga lainnya sudah terjalin dengan baik serta diikat oleh rasa saling percaya satu sama lain. Dari keseharian ini kemudian muncul fenomena jejaring sosial yang mengiringi jejaring teknologi. Warga mulai keluar dari kehidupan eksklusif di masa lalu yang berdasar adat-kebiasaan dan hubungan darah, menuju kepada keseharian inklusif, dimana warga dari aneka latarbelakang profesi membangun sikap saling mempercayai. Kenyataan ini tidak tampak di daerah-daerah lain di India atau juga tak terlihat pada nyaris semua negara berkembang. Sebaliknya, kenyataan di Bangalore itu terlihat juga pada masyarakat di Boston dan San Francisco, AS. Itulah inti ‘keajaiban Bangalore’, yakni tatkala social capital muncul seiring dengan peresapan teknologi ICT.

Tingkat keterserapan ICT di negara berkembang mempunyai korelasi pada kesiapan memasuki sistem global. Sebab, hampir semua sisi hubungan internasional lintas negara saat ini menunjukkan adanya penggunaan ICT. Melalui penggunaan ini, kemudian pelan namun pasti telah terjadi perubahan infrastruktur ekonomi, sosial dan politik baik di negara berkembang maupun di negara maju. Ketika ICT mulai menjadi bagian dari keseharian di Cina, maka demam internet dari masyarakat menjadi tak terhindarkan sehingga Partai Komunis Cina (PKC) mulai terkena dampak. Jika sebelum era internet, masyarakat Cina begitu mudah ditundukkan oleh kekuasaan para pengurus PKC, sebaliknya, ketika ICT mewabah, masyarakat pun tak mudah percaya begitu saja terhadap PKC. Akan tetapi, pengaruh penggunaan ICT di Brazil justru semakin memperkuat posisi pemerintah, ketika upaya-upaya peningkatan produk domestik digalakkan secara besar-besaran satu dekade silam. Sementara di Ghana, pemerintah melakukan strategi penataan kembali melalui dominasi terhadap semua sektor dimana ICT memainkan peranan penting. Melalui penataan ini, pemerintah Ghana kemudian mendorong terciptanya kediktatoran lunak gaya khas politik Afrika yang patrimonial.       

Pemaparan penulis buku ini tentang pengalaman tiga negara berkembang analog dengan pengalaman masyarakat Surabaya yang mulai menggunakan PSB online, e-procurement atau e-budgeting  untuk mempermudah kinerja birokrasi. Namun, tetap ada kendala yang harus dihadapi masyarakat. Pertama, menyangkut kesiapan sistem IT yang digunakan. Kesiapan ini tentu harus dikaitkan dengan kesadaran birokratik , bahwa elit birokrasi merupakan pelayan masyarakat sehingga wajib menunjukkan pelayanan prima. Kedua, strategi penataan kembali pelayanan untuk masyarakat sangat terkait pada perilaku politik dari elit. Jika elit politik berperilaku sembarangan, maka akan terjadi kesemrawutan penggunaan sistem IT.
* * *
(Peresensi adalah Koordinator Surabaya Readers Club, Surabaya)
  

Senin, 20 September 2010

Membaca Cermat dan Kritis (2)

Kembali mengurai seputar aktivitas membaca. Kadang kita merasa sangat bosan ketika membaca isi sebuah buku pada saat sudah memasuki halaman-halaman di bagian tengah atau menjelang akhir. Kebosanan muncul bisa jadi karena adanya pengulangan alasan atau repetisi dalam paparan dari penulis, boleh jadi juga dikarenakan penulis buku bertele-tele dalam menguraikan isi pikirannya dengan kalimat tak menarik. Sebagai pembaca, tentu kita mengharapkan kenikmatan dalam memahami isi buku tanpa harus terganggu dengan cara penulis menguraikan paparannya yang tidak masuk akal atau bertele-tele. Oleh karena itu, salah-satu cara untuk tidak terjebak kedalam rasa bosan atau frustasi berlarut-larut, maka kalau kita masih punya waktu ekstra dalam membaca buku tersebut, maka berilah catatan, coretan atau komentar didalam buku itu. Sebagai pembaca, anda berhak sepenuhnya atas buku yang sudah menjadi milik anda, untuk mencoretnya atau mengomentarinya. Disinilah sebenarnya tampak keterlibatan penuh pembaca aktif seperti anda terhadap sebuah karya yang telah dituliskan penulis.

Coretan atau komentar anda pada sebuah buku jelas menunjukkan perhatian anda terhadap isi buku. Isi coretan itu bisa saja karena keisengan anda atau memang anda punya perhatian lebih pada isi buku. Coretan yang baik atau komentar kritis pada isi buku jelas akan memberi nilai tambah pada buku tersebut, sebab dari coretan atau komentar balik itu akan terlihat dialog anda dengan isi buku. Pembaca pasif jelas berbeda dari pembaca aktif, dimana pembaca aktif selalu penuh perhatian mencermati bagaimana rangkaian kata, kalimat atau argumentasi penulis disusun dan kemudian direspon. Coretan atau komentar terhadap isi buku merupakan respon anda terhadap pikiran penulis sekaligus bentuk perhatian anda terhadap alur dan sudut-pandang penulis buku. Disinilah sebenarnya jalinan dialog antara pembaca dan penulis sehingga melalui buku posisi penulis tidak harus berada diatas pembaca. Pembaca kritis akan menemukan berbagai kejanggalan, kelemahan atau ketidakmasuk-akalan dalam paparan penulis. Namun demikian, patut diperhatikan, bahwa mengkritisi isi buku bukanlah berarti harus mencari-cari kesalahan atau kejelekan buku tersebut. 

Mengkritisi isi buku mempunyai kedudukan lebih tinggi dari sekadar memuji atau menyetujui apapun yang dituliskan penulis buku. Bahkan, mengkritisi isi buku sangat jauh terhormat ketimbang mencari-cari kesalahan atau kejelekan isi buku. Barangkali kita masih ingat dalam sejarah polemik kebudayaan ketika komentar dan kritik berlalu-lalang diantara para penulis sehingga melahirkan sebuah ketegangan kreatif antara penulis dan pembaca kritis. Para komentator atau kritikus pada masa itu selalu bisa menemukan sesuatu yang layak untuk dikritik dari karya-karya seni dan budaya. Dan pembaca pasif atau penikmat karya-karya kebudayaan, semacam buku atau karya seni lainnya, akan memperoleh manfaat besar berupa cakrawala pemikiran dan spektrum gagasan yang begitu luas. Penemuan titik lemah dari sebuah paparan penulis tentu mengharuskan upaya serius untuk mencermati isi buku, tidak bisa sekadar melakukan review biasa terhadap buku tersebut. 

Dari sudut-pandang untuk kemajuan penulis, tentu saja coretan atau komentar dari pembaca aktif akan sangat bermanfaat, sebab pada hakikatnya sebuah buku ditulis bukan semata untuk menggiring pembaca agar setuju kepada apapun yang dipaparkan oleh penulis. Melainkan, pembaca juga mempunyai hak untuk mengomentari atau mengkritik isi buku. Apa yang dituliskan oleh penulis yang dianggapnya sudah bagus dan baik, belum tentu dianggap demikian oleh pembaca yang kritis dan cermat.