Selamat Membaca SBR

Untuk anda, para pembaca situs blog ini, semoga ada manfaat yang bisa anda dapatkan. Silakan tulis komentar anda dibawah. Saran dan kritik sangat kami tunggu.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Menguak Tafsir Baru Anarkisme

Judul buku: Post Anarchism
Pengarang : Saul Newman
Penerbit   : Polity
Tebal        : xiv + 160 halaman
Cetakan   : Pertama, Mei 2016

Bagi orang awam, kata 'anarkis' selalu disamakan dengan aksi kekerasan. Bahkan kata itu juga ditujukan untuk semua aksi anti-keteraturan, melawan tatanan, sampai memicu kekacauan. Anarkis lalu dipahami sebagai perbuatan merusak, membongkar plus mengacaukan. Jika disebut kata 'anarkis' atau 'anarkisme', boleh jadi siapapun yang dengar spontan bergidik bulu kuduknya. Padahal makna kata anarki yang berasal dari bahasa Yunani ini, bisa dipecah jadi dua kata, 'an' yang bermakna 'tidak', dan 'arkhos' yang berarti 'pemimpin'. Maka, 'anarkisme' boleh dikata sebagai paham otonom anti-kepemimpinan.   

Sehingga, bagi penulis buku ini, anarkisme bukanlah kriminalitas. Ia bukan jenis kejahatan, melainkan ia adalah ekspresi politik radikal yang bertumpu pada sikap otonom individu. Sikap ogah menghamba, menolak penghambaan. Bagi Saul Newman, gerakan anarkisme di seluruh dunia selalu menawarkan gagasan orsinil membedah eksploitasi. Seorang yang berpikiran anarkis adalah sosok yang tak mau tunduk pasrah begitu saja pada hegemoni apapun. Ia selalu bersikap kritis terhadap dominasi, eksploitasi bahkan terhadap hegemoni yang halus sekalipun.

Paham anarkisme ini sudah mewabah ke seluruh jagat. Memasuki benak kaum muda di berbagai negara, kemudian membangkitkan kegairahan baru kehidupan politik kaum muda progresif. Seperti tampak pada gerakan anti-penguasa di Tunisia, Mesir (Tahrir Square) sampai aksi 'Occupy Wall Street' selama kurun 2011-2012. Gerakan otonom ini bersifat masif. Tidak ada pemimpin aksi, sebab semua peserta aksi berada dalam kesetaraan memahami situasi. Tidak ada pemegang komando aksi, karena seluruh anggota aksi mempunyai kesadaran yang sama melawan penguasa yang sudah merampas hak politik warga. 

Ditulis dengan gaya renyah, buku tipis ini berisi enam bab pembahasan. Sebagai guru besar teori politik Universitas London, Saul Newman tampak memahami kaum muda pembaca bukunya. Ia terlebih dulu menguraikan beda anarkisme dari Marxisme atau Leninisme. Jika kedua paham abad 20 itu merujuk ke nama para perintisnya, yakni Marx dan Lenin, maka anarkisme haram merujuk hanya pada satu nama besar seperti Bakunin. Banyak nama besar penyumbang gagasan anarkisme, namun yang terpenting tentu isi gagasannya ketimbang orangnya. Ibarat obat, anarkisme ini sejenis paham generik anti-otoritarian, emoh penindasan.     

Lagipula, revolusi yang selalu menjadi impian kaum Marxis, kini sudah usang. Selain dikarenakan revolusi yang sudah pasti memakan banyak korban jiwa, justru dalam situasi kini yang dibutuhkan masyarakat adalah bergerak minus korban. Bukan atas nama revolusi, para pengusung anarkisme lebih doyan menggunakan kata 'insureksi' (kebangkitan). Fenomena insureksi terjadi dimana-mana, dari negara maju sampai negara berkembang. Para warga anti-penggusuran sudah menjalar berkat kesadaran atas hak-haknya.

Ditegaskan Newman, perbedaan antara revolusi dan insureksi adalah pada hasilnya (hlm.47-67). Pengusung ide revolusi akan menekankan perlunya hirarki baru usai revolusi. Insureksi justru menekan kan pada jaringan, karena anarkis menolak segala bentuk hirarki. Alasannya, hirarki hasil revolusi akan menyebabkan pemberontakan menjadi sebuah siklus tanpa akhir.

Jaringan kaum anarkis dibentuk atas dasar persamaan hak dan kewajiban. Lalu, timbullah emansipasi dan toleransi antar pelaku, tidak ada perebutan kekuasaan. Meskipun terlihat sangat ideal dan mengada-ada, tapi banyak pemberontakan sekarang malah berbentuk insureksi, seperti Occupy Wall Street di tahun 2011. Juga demonstrasi di Seattle pada tahun 1999, kemudian demonstrasi mahasiswa Chile yang baru saja terjadi. Paham anarkisme malah mendorong hidup secara otonom dan saling toleran antara satu orang dengan lainnya. (RMH)

Sabtu, 04 Oktober 2014

Membaca Cak Nur, Membaca Indonesia Modern

Buku    : Cak Nur, Sang Guru Bangsa
Pengarang: Muhamad Wahyuni Nafis
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tebal: xxx + 370 halaman
Cetakan: Pertama, 2014

Sosok Cak Nur begitu lekat pada keindonesiaan, keislaman dan kemodernan. Tiga kredo membangun Indonesia penuh harapan dalam suasana lebih baik, lebih mencerahkan. Sahabat kami, Mas Nafis, begitu intens mendampingi Cak Nur dalam hari-hari pengembangan forum Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina di Pondok Indah selama bertahun-tahun silam. Tanpa mengecilkan kehadiran Mas Budhy, Mas Elza, dll, dalam lingkaran KKA, maka intensitas Nafis itu membuatnya menjadi penulis biografi Cak Nur paling otoritatif.

Di dalam buku ini terasa betul, bagaimana rangkaian data dan  memori Nafis merekam beragam pandangan dan kegiatan Cak Nur. Nafis menggambarkan sosok Cak Nur bukan sebatas ilmuwan 'per se', namun ia juga mampu menampilkan Cak Nur sebagai aktivis keilmuan sepanjang hayat. Cak Nur berbagi saripati ilmu kepada banyak orang, atas apa yang ditelaahnya. Posisi KKA sangat strategis karena Cak Nur secara tepat membaca pergerakan muslim modern yang tengah naik vertikal ke atas. Kaum muslim di negeri ini bukan lagi menjadi sekadar pelengkap dekorasi politik, namun ada kesadaran baru muslim di Indonesia di tengah hiruk-pikuk modernitas. Kesadaran pada jati-diri kaum tercerahkan di tengah bangsa yang menapak kemodernan.

Dalam lima bagian buku ini, Nafis benar-benar mengeksplorasi pertautan pandangan serta aktivitas Cak Nur dengan tema-tema kemodernan. Gaya vertutur Nafis menjadikan buku ini enak dibaca, tidak membosankan dan layak dikoleksi.


 

Minggu, 16 Februari 2014

Telik Sandi dalam Jual-Beli Informasi



Judul Buku     : Trading Secrets
Pengarang      : Mark Huband
Penerbit          : IB Tauris, London
Cetakan          : Pertama, Desember 2013
Tebal               : xii + 259 halaman

PENYADAPAN bukan perkara enteng. Jangan pula dientengkan. Ini perkara serius, sebab hasil penyadapan merupakan informasi bernilai tinggi. Bukan informasi biasa, tapi informasi dari sumber langsung berkualifikasi rahasia. Tak sembarang orang bisa tahu informasi itu. Apalagi, informasi yang berkaitan langsung dengan apa yang bakal terjadi. Itulah yang membuat informasi produk penyadapan beda dari informasi biasa.

Ibarat harga barang langka, nilai jual informasi hasil penyadapan sangat tinggi. Bukan cuma negara yang butuh itu, perusahaan multinasional pun ingin beli. Tujuannya, jelas untuk antisipasi jika isi informasi tersebut jadi kenyataan. Negara penyadap informasi mencurahkan anggaran luar-biasa besar untuk merakit teknologi canggih demi memperoleh informasi 'A1'. Bagi negara-negara ini, informasi itu bisa menjadi rujukan dalam berdiplomasi. 

Selama perang dingin, dedengkot penyadapan adalah lembaga intelijen, seperti CIA dan MI6. Lembaga ini melahirkan beragam teknik, taktik dan strategi penyadapan. Pengembangan teknologi penyadapan juga berkembang pesat. Alat telik sandi itu harus diletakkan sedekat mungkin ke sumber penting. Untuk itu, dibutuhkan 'orang dalam' yang bisa menaruh alat itu, tanpa dicurigai. Anggaran lembaga-lembaga intelijen barat pun tanpa batas, sebab perlu membayar 'orang dalam' tersebut. 

Selasa, 31 Desember 2013

Ada Mao di Balik al Qaeda

Judul Buku    : Decoding al Qaeda's Strategy
Pengarang     : Michael WS Ryan
Penerbit        : Columbia University Press
Cetakan         : Pertama, 2013
Tebal             : xii + 352 halaman

Perang lawan teroris bukan perang biasa. Ini butuh kecerdikan. Mirip perang gerilya, adu taktik, adu siasat. Kalah taktik apalagi siasat, jangan harap bisa menguasai medan. Prinsipnya, siapa cerdik dia menang. Bertahun-tahun sejak peristiwa 9/11 di New York, kecerdikan ini diperlukan untuk melacak sekaligus memecahkan kode-kode kelompok teroris. Tidak mudah memang, sebab kelompok ini pun kerap mengubah dan mengembangkan kode-kode tersebut. 

Penulis buku ini termasuk ilmuwan yang percaya, bahwa gerilya teroris selalu melalui kode-kode di dalam gagasan ekstrem. Kode-kode itu tidak bisa terungkap jika penelusuran penegak hukum hanya berkesimpulan, ideologi terorisme adalah radikal pro-kekerasan. Seperti kode 'jihad'. Kode itu selama ini cuma dikonotasikan sebagai pemicu kekerasan, padahal istilah jihad bisa menjadi kode revolusi. Kekerasan hanya ekses dari revolusi itu. Punya kemiripan dengan kode yang dicetuskan para ideolog komunisme.       

Melalui internet, kode jihad bisa cepat tersebar. Jihad al Qaeda, tulis Ryan, adalah seruan revolusi. Mereka menyusun argumen jihad, identik anti-hegemoni Barat. Invasi Barat ke kawasan muslim dan eksploitasi sumber daya alam di sana, menjadi pembenar perlunya revolusi. Meski dianggap cuma kelompok kecil, tapi jangan sepelekan al Qaeda. Apalagi, para ideolognya kini jauh lebih cair dibanding saat Osama masih hidup. Jejaring mereka solid dan rapi.  

Kamis, 28 Juni 2012

Menutup Abad 20, Membuka Abad 21

Catatan Kritis Intelektual Dunia



Judul Buku    : The World
Pengarang     : Goran Therborn
Penerbit        : Polity, UK
Tebal             : x + 265 halaman
Cetakan        : Pertama, 2011

Sekali lagi Goran Therborn membuktikan dirinya sebagai sosiolog radikal. Pakar yang mengajar di Universitas Cambridge dan kini sudah pensiun ini tak henti-hentinya mengeluarkan pernyataan radikal yang mampu menarik perhatian masyarakat luas. Terutama pernyataan bagaimana membaca fenomena dunia ketika kapitalisme memang dan jaya di berbagai belahan dunia.

Ketika veteran sejarawan terkemuka Eric Hobsbawm merekomendasikan karya Göran Therborn terbaru ini sebagai bahan bacaan untuk memahami bagaimana berbagai peristiwa di dunia ini harus dilihat. Maka, banyak pembaca kritis kemudian mulai berupaya menilai argumen-argumen yang diajukan oleh Ternborn yang berasal dari Swedia itu. Diantara argumen yang diajukan Therborn adalah terkait bingkai kita selama ini dalam melihat perkembangan dunia. baginya, pembingkaian yang kurang pas pada segala peristiwa itu akan berdampak pada hasil pengamatan, sehingga bisa muncul salah penerjemahan terhadap peristiwa yang terjadi.

Kamis, 05 April 2012

Kelompok Islamis, Arab Saudi dan Terorisme

Judul buku    : Awakening Islam
Penulis          : Stephane Lacroix
Penerbit        : Harvard University Press, AS
Cetakan        : Pertama, Desember 2011
Tebal             : 373 halaman

Bagaimana jadinya sebuah ideologi tumbuh di dalam masyarakat yang terfragmentasi? Masyarakat yang terpilah ke dalam berbagai suku, kabilah dan golongan, yang dalam sejarah secara ekstrem menunjukkan kesulitan untuk bersatu, kecuali saat diikat oleh satu keyakinan agama. Tentu, ideologi yang tumbuh akan menghadapi persoalan-persoalan awal berupa keterpilahan dan pandangan ortodoks yang nyaris sudah dipandang sebagai bagian dari dogma keyakinan agama tersebut sehingga ideologi yang bangkit di dalam masyarakat itu harus berkompromi pada situasi yang tercipta akibat ortodoksi yang kekal. Walau pergeseran demi pergeseran terjadi sebagai akibat keterbukaan media dan keinginan melakukan komparasi dengan negara lain, iklim ortodoksi itu tampak masih kuat bahkan semakin mengeras ketika berhadapan pada modernitas.

Buku ini terdiri dari tujuh bab, yang ditutup dengan kesimpulan penulis berisi seputar pelajaran-pelajaran penting dari kebangkitan. Pada bab pertama penulis menjelaskan tentang dinamika gerakan Islamisme dalam masyarakat yang terbelah. Harus diakui, walau Arab Saudi telah menjadi tempat kelahiran ajaran Islam, namun negara ini juga tak luput dari pengaruh gerakan kebangkitan Islam pada abad ke-19 dan 20. Oleh karena itu, gerakan Islamisme di Arab Saudi tidak bisa dikatakan sebagai gerakan yang terisolir dari proses interaksi dengan aneka gerakan kebangkitan yang kala itu sudah marak di seluruh jazirah Arabia, Afrika Utara dan Asia Selatan.

Kelompok-kelompok Islamis mempunyai penafsiran terhadap ajaran inti Islam yang bisa jadi berbeda satu sama lain meski dalam beberapa hal mereka mempunyai kemiripan, seperti ketika mereka memandang hubungan antara Islam dan Barat. Bagi mereka, masyarakat muslim berada dalam ancaman nilai-nilai Barat. Sebuah nilai-nilai yang tak sesuai dengan ajaran Islam karena berasal dari sumber yang berbeda. Sikap serta pemikiran resistensi ekstrem sering ditunjukkan kelompok Islam ini ketika berhadapan dengan segala sesuatu yang berbau Barat. Kelompok mileniarianisme Islam Arab Saudi pimpinan Juhayman al Utaybi yang berhasil menguasai Masjid al Haram pada tahun 1979.

Senin, 05 Maret 2012

Politik Sastra ala Jacques Ranciere

Judul Buku    : The Politics of Literature
Pengarang     : Jacques Ranciere
Penerbit        : Polity Press, UK
Tebal             : vii + 215 halaman
Cetakan        : Pertama, Desember 2011

Jacques Rancière semakin menarik perhatian para kritikus sastra dan teoritisi Anglophone. Ia memiliki reputasi sebagai seorang pemikir radikal, baik secara intelektual dan politik: dia adalah seorang kolaborator Louis Althusser dan telah menulis banyak karya di bidang pendidikan radikal, sastra, sejarah sosial dan HAM yang sangat berpengaruh.

Namun, buku ini merupakan kumpulan esai terpilih, yang berkisar dari paparan umum untuk karya yang lebih terfokus. Misalnya dari perbincangan seputar program opera, tidak memberikan jarak intelektual atau radikalisme terhadap berbagai bahasan seputar itu. Hal ini juga terlihat agak aneh, dan karena itu lebih mengangkat reputasinya.

Contoh lainnya, saat ia menguraikan bahwa politik sastra bukanlah politik penulis atau teks didaktik, melainkan bahwa semua sastra adalah politik, terutama jika kita mengerti politik menjadi apa yang dinamakan Ranciere sebagai 'penyebaran sesuatu yang dapat dipersesikan'.

Dengan istilah ini, ia memaknai bahwa hanya apa saja yang bisa dipersesikan yang dianggap sebagai politik, sebagai memiliki kepentingan dan berat dalam kehidupan kolektif kita, perubahan dari waktu ke waktu dan sebagai respon terhadap intervensi: "Semua kegiatan politik", ia menulis, "adalah konflik yang ditujukan untuk memutuskan apa yang ada adalah pembicaraan atau kegeraman belaka".