Judul Buku : Policing Democracy
Penulis : Mark Ungar
Penerbit : The Johns Hopkins University Press
Tebal : xviii + 389 halaman
Cetakan : Pertama, 2011
PERBINCANGAN tentang demokrasi dan reformasi sektor keamanan sering harus terjebak ke dalam pertentangan antara keinginan untuk memperbaiki kinerja aparat penegak hukum dan keinginan masyarakat umum agar pemerintah melakukan tindakan segera terhadap berbagai masalah yang ada. Demokrasi memang memberikan peluang bagi masyarakat untuk mendesak pemerintah melakukan penanganan segera atas permasalahan yang ada, namun seringkali pemerintah sendiri mempunyai skala prioritas penanganan masalah yang bisa berbeda dari keinginan warga masyarakat. Dalam kaitan ini, posisi lembaga legislatif sebenarnya bisa berfungsi mempertemukan dua kutub berbeda di alam demokrasi, meski sayangnya pembangunan demokrasi di negara-negara berkembang justru mengabaikan fungsi legislatif itu.
Apalagi jika kemudian baik legislatif maupun partai politik yang menjadi penyuplai politisi untuk mengisi lembaga tersebut, ternyata mempunyai kualitas serta bobot yang sangat timpang dibanding kemampuan eksekutif dalam menuntaskan berbagai persoalan. Peran partai politik menjadi mandul ketika desakan masyarakat untuk penuntasan persoalan-persoalan nyata pada kenyataannya bukan menjadi prioritas utama. Partai politik yang diidam-idamkan menjadi saluran bagi aspirasi masyarakat justru terjebak ke dalam aksi serta pemikiran sempit berupa pemenuhan kebutuhan keorganisasian belaka.
Selamat Membaca SBR
Untuk anda, para pembaca situs blog ini, semoga ada manfaat yang bisa anda dapatkan. Silakan tulis komentar anda dibawah. Saran dan kritik sangat kami tunggu.
Minggu, 23 Oktober 2011
Jumat, 21 Oktober 2011
Kenapa Harus Meresensi Buku Berbahasa Inggris?
PERTANYAAN yang sering mengemuka terkait buku-buku yang diresensi dalam blog ini diantaranya adalah kenapa kami memilih meresensi buku-buku berbahasa Inggris. Pertanyaan ini bagi kami tentu sangat wajar mengingat nyaris sebagian besar masyarakat Indonesia masih memandang buku berbahasa Inggris adalah sulit dan tak terjangkau. Kesulitan utama dalam membaca buku berbahasa Inggris tentu terletak pada kemampuan mencerna apa yang dituliskan sang penulis buku.
Kaidah serta tata bahasa Inggris yang berbeda dari bahasa Indonesia tentu menjadikan kita kadang sulit memahami apa maksud dari untaian kalimat dalam buku tersebut. Padahal, kalau kita mau sedikit bersusah-payah untuk membekali diri dengan perangkat tata bahasa yang baik, maka aktivitas membaca buku berbahasa Inggris merupakan sarana yang tepat untuk mempraktekkan tata bahasa yang sudah terkuasai dengan baik. Jika para 'founding fathers' di Republik tercinta ini dulu mampu menguasai dengan baik berbagai bahasa asing, terutama bahasa Belanda dan Inggris, kenapa kemudian kita menjadi alergi pada bahasa asing? Para 'founding father' itu tentu tidak serta-merta bisa menguasai bahasa Belanda dan Inggris saat mereka masuk ke sekolah.
Kaidah serta tata bahasa Inggris yang berbeda dari bahasa Indonesia tentu menjadikan kita kadang sulit memahami apa maksud dari untaian kalimat dalam buku tersebut. Padahal, kalau kita mau sedikit bersusah-payah untuk membekali diri dengan perangkat tata bahasa yang baik, maka aktivitas membaca buku berbahasa Inggris merupakan sarana yang tepat untuk mempraktekkan tata bahasa yang sudah terkuasai dengan baik. Jika para 'founding fathers' di Republik tercinta ini dulu mampu menguasai dengan baik berbagai bahasa asing, terutama bahasa Belanda dan Inggris, kenapa kemudian kita menjadi alergi pada bahasa asing? Para 'founding father' itu tentu tidak serta-merta bisa menguasai bahasa Belanda dan Inggris saat mereka masuk ke sekolah.
Kamis, 20 Oktober 2011
Membaca Buku Berbahasa Inggris
MEMBACA buku tentu memberi kenikmatan tersendiri bagi siapa saja yang keranjingan. Seorang penulis buku yang piawai tentu akan selalu menjaga stamina pembacanya. Caranya, dengan menuliskan susunan kalimat yang mudah dicerna dan enak dibaca. Tentu saja, untuk menyusun kalimat semacam itu, seorang penulis harus terus menerus mengasah kemampuannya menuangkan gagasan atau perasaannya dalam bentuk tulisan. Awalnya, memang sulit menuangkan gagasan tersebut ke dalam rangkaian kalimat menawan dan mampu menjadikan pembaca betah membaca halaman demi halaman dan seakan tak mau beranjak dari buku tersebut.
Kita barangkali terbiasa membaca buku berbahasa Indonesia. Baik buku yang ditulis oleh para pengarang Indonesia asli maupun buku hasil terjemahan dari bahasa asing, utamanya dari bahasa Inggris. Tentu bisa dibedakan, antara buku yang ditulis oleh pengarang Indonesia dari buku terjemahan bahasa asing. Contohnya, sebuah buku hasil terjemahan dari bahasa Inggris, kadang-kadang penerjemahan yang dilakukan penerbit Indonesia terbaca belum optimal. Boleh jadi, nuansa kebahasaan yang ada belum tertangkap dengan baik.
Sabtu, 15 Oktober 2011
Realita Jihad itu Bersifat Fluktuatif dalam Sejarah Muslim
Judul Buku : Partisans of Allah, Jihad In South Asia
Pengarang : Ayesha Jalal
Penerbit : Harvard University Press, AS
Tebal : xvii + 373 halaman
Cetakan : Pertama, 2008
----------------------
PERJALANAN kelompok jihadis sering menjadi bahan sorotan publik dan media. Belakangan, sorotan itu semakin meningkat setelah AS berhasil masuk ke wilayah Pakistan dan melakukan serangan mendadak kepada dedengkot al Qaeda, Osama bin Laden. Selanjutnya, AS menerapkan perang lawan teror dengan melibatkan jet tempur tak berawak yang akrab disebut 'drone'. Hasilnya, sejumlah tokoh organisasi radikal di Yaman, Somalia dan beberapa tempat lain, tewas karena serangan 'drone' itu.
-------------------------------
Buku ini hendak menguraikan bagaimana konsep jihad juga tumbuh subur di Asia Selatan. Riset yang dilakukan oleh penulis buku itu memang bertujuan menunjukkan bagaimana liku-liku pertumbuhan kelompok-kelompok jihadis itu, yang boleh jadi tak terintegrasi dengan kelompok serupa di Arab Saudi, Bahrain, Yaman atau Somalia.
Minggu, 25 September 2011
Membongkar Krisis Ganda Ekonomi Liberal
Pengarang : Alex Callinicos
Penerbit : Polity Press, 2010
Tebal : viii + 179 halaman
Alex Callinicos adalah Profesor Studi Eropa di King's College London, tapi lebih penting lagi dia adalah sosok yang mampu berkomitmen untuk menggunakan analisis Marxis pada kerja kapitalisme pada tataran ekonomi dan politik internasional. Sementara banyak analis sejarah dunia akhir-akhir ini umumnya kurang becus menganalisis apa yang sedang terjadi karena terjebak dalam paradigma apalogetik pada kapitalisme dan pemahaman agak membingungkan tentang faktor-faktor yang bekerja dalam kapitalisme itu. Dalam kaitan ini, buku 'Bonfire of Illusions', The Twin Crises of Liberal World tentu menyegarkan, jelas dan dikemas penuh dengan penjelasan dan bukti .
Secara mengejutkan, Callinicos mengidentifikasi salah satu dari dua krisis Dunia Liberal setelah keruntuhan keuangan 2007-09. Tapi meskipun banyak akan mengharapkan serangan terhadap menara kembar menjadi krisis utama lainnya, Callinicos bukan mengidentifikasi sebuah peristiwa yang memiliki efek yang lebih mendalam tentang peran AS di dunia politik, perang antara Rusia dan Georgia pada tahun 2008.
Jumat, 19 Agustus 2011
Pemikiran Baru Ekonomi Terorisme
Judul Buku : Radical Religious and Violent
Pengarang : Eli Berman
Penerbit : MIT Press, AS
Cetakan : I, 2009
Tebal : xi + 300 halaman
KAJIAN-kajian terorisme kini bukan cuma seputar keamanan serta aspek-aspek hukum yang melingkupinya, melainkan kajian itu sudah memasuki wilayah beragam dengan berbagai interaksinya pada disiplin keilmuan lainnya. Hal itu menjadikan terorisme sebagai suatu subyek kajian atau penelitian kemudian tidak lagi bisa dipisahkan dari sudut-pandang apa yang membingkainya. Manakala sudut-pandang itu berpangkal pada psikologi, maka kajian-kajian yang dihasilkannya sangat kental nuansa psikis serta paparan seputar mentalitas dan struktur kejiwaan.
Demikian juga dengan penulis buku ini, Eli Berman. Ia adalah mantan orang lapangan yang terjun langsung ke sejumlah lokasi-lokasi sasaran aksi terorisme dan juga ia berinteraksi langsung pada kelompok-kelompok tersebut. Dari hasil penelitiannya yang cukup lama serta mendalam itulah, Eli yang juga guru besar ekonomi di University California, San Diego, AS ini mencoba menyelami dimensi ekonomi dari terorisme. Bukan berarti dampak ekonomi dari aksi terorisme, melainkan apa latar-belakang pemahaman ekonomi dari para pelaku aksi terorisme tersebut.
Pengarang : Eli Berman
Penerbit : MIT Press, AS
Cetakan : I, 2009
Tebal : xi + 300 halaman
KAJIAN-kajian terorisme kini bukan cuma seputar keamanan serta aspek-aspek hukum yang melingkupinya, melainkan kajian itu sudah memasuki wilayah beragam dengan berbagai interaksinya pada disiplin keilmuan lainnya. Hal itu menjadikan terorisme sebagai suatu subyek kajian atau penelitian kemudian tidak lagi bisa dipisahkan dari sudut-pandang apa yang membingkainya. Manakala sudut-pandang itu berpangkal pada psikologi, maka kajian-kajian yang dihasilkannya sangat kental nuansa psikis serta paparan seputar mentalitas dan struktur kejiwaan.
Demikian juga dengan penulis buku ini, Eli Berman. Ia adalah mantan orang lapangan yang terjun langsung ke sejumlah lokasi-lokasi sasaran aksi terorisme dan juga ia berinteraksi langsung pada kelompok-kelompok tersebut. Dari hasil penelitiannya yang cukup lama serta mendalam itulah, Eli yang juga guru besar ekonomi di University California, San Diego, AS ini mencoba menyelami dimensi ekonomi dari terorisme. Bukan berarti dampak ekonomi dari aksi terorisme, melainkan apa latar-belakang pemahaman ekonomi dari para pelaku aksi terorisme tersebut.
Senin, 15 Agustus 2011
Ketika Sang Naga Melirik Benua Hitam
Judul Buku : The Dragon's GiftPengarang : Deborah Brautigam
Penerbit : Oxford University Press
Cetakan : I, 2009
Tebal : xv + 397 halaman
Pada beberapa tahun belakangan, pemerintah Cina sangat masif memberikan bantuan, baik dana maupun perhatian besar, pada benua hitam Afrika. Tentu saja, perhatian inilah yang sangat meresahkan banyak perusahaan-perusahaan asing. Mereka melihat kedekatan Cina dengan Sudan, bahkan sejumlah warga biasa Cina sudah mulai menyatu dengan warga Sudan dalam perdagangan, jelas merupakan ancaman serius bagi masa depan bisnis perusahaan Eropa dan AS.
Apalagi selama beberapa dekade terakhir, Beijing telah mengalirkan uang ke benua itu, melakukan transaksi dengan para kepala pemerintahan, pengusaha Afrika dan kelompok-kelompok tertentu, yang dicurigai oleh para para pengusaha Barat atau kepala pemerintahan mereka sebagai upaya Cina mencari sekaligus menjarah sumber daya alam untuk bahan bakar pertumbuhan tanpa henti. Istilah pejoratif yang selalu digunakan adalah invasi Cina ke benua Afrika yang menampilkan wajah moralitas untuk para pejahat Afrika. Jelas, istilah semacam ini boleh dikata merupakan ingatan kolektif masyarakat Barat terhadap kenyataan di Afrika dan Asia.
Senjata paling jitu yang selalu disuarakan oleh para peneliti Barat adalah Hak asasi manusia yang menepis kekhawatiran, lingkungan rusak, bisnis lokal hancur, dan korupsi yang dipandang endemik. Semua itu secara sinis ditudingkan ke realita semakin dekatnya Cina pada negara-negara Afrika, termasuk Sudan. Kasus lepasnya Sudan Selatan mungkin masih menyisakan duka mendalam, betapa kampanye hitam peneliti Barat pada Sudan sudah sangat keterlaluan, bahkan cenderung main tuding tanpa fakta. Kasus itu sendiri bermula dari persoalan konflik di Darfur yang tak berkesudahan dan dianggap telah melanggar HAM sebagai akibat dari tata pemerintahan yang buruk dari Jenderal Omar Bashir.
Dalam konteks Sudan itu, Cina semula dianggap tutup mata dan tak ambil pusing karena apapun yang terjadi di dalam negeri Sudan bukanlah urusan pemerintah Cina. Urusan pemerintah Cina kepada Sudan adalah berkaitan pada eksplorasi sumber daya alam Sudan, bukan dalam urusan politik. Sikap Cina semacam itu kemudian menimbulkan kecaman bertubi-tubi dari komunitas Barat. Tekanan pun terus berlanjut ke Cina, hingga kemudian Cina harus menghadapi fakta sulit dituding sebagai negara paling menjijikkan karena mendukung rezim penguasa lalim di Afrika.
Ini adalah gambar merajalelanya neo-kolonialisme yang dianggap sebagai rujukan oleh banyak orang di Barat. Tapi sebenarnya ada gambaran agak berbeda, yang menjelaskan mengapa beberapa pemimpin Afrika lebih visioner merangkul kemajuan Cina, ketimbang bersetubuh dengan Barat. Pemerintah Afrika bersikap realistik untuk mencermati Cina sebagai negara yang punya prospek untuk mendongkrak kemajuan Afrika, lebih dari sekadar melihat Afrika sebagai benua yang siap dieksploitasi.
Buku karya akademis dari periset AS Deborah Brautigam, pengamat dari Afrika dan Asia selama tiga dekade, muncul pada saat yang tepat. Ia menggunakan pengalaman pribadi dikombinasikan dengan penelitian kualitatif yang kuat terhadap mitos menakutkan bahwa telah berkembang awan pemahaman dari salah satu pergeseran geopolitik paling penting sejak jatuhnya Tembok Berlin.
Contohnya Angola, sebagaimana ditulis Brautigam, adalah salah satu pameran utama dalam paduan suara kecaman negara-negara Barat terhadap Cina. Dikutuk dengan sumber daya alam minus, negara itu lumpuh selama lebih dari 40 tahun akibat menjadi medan pertempuran selama Perang Dingin, muncul dengan infrastruktur rusak, utang besar dan pemerintahan yang korup.
Dana Moneter Internasional kemudian menuntut adanya tindakan pembersihan dan mulai mendorong pemberlakuan akuntansi pendapatan minyak yang membengkak, ketika Cina diduga ngotot tetap mempertahankan kesepakatan bantuan dengan kondisi lama, hal itu jelas mengalahkan perjuangan untuk transparansi dan memprovokasi kemarahan internasional.
Kenyataannya adalah lebih membosankan. Cina menawarkan pinjaman berbunga rendah, bukan bantuan, dengan pembayaran jaminan dari pendapatan minyak. Dan uang itu harus dihabiskan membangun kembali bangsa yang hancur yang telah melihat 300 jembatan dibom dan bertebaran ranjau darat. Ini adalah kesepakatan berisiko, tapi menawarkan harapan bahwa beberapa kekayaan Angola mungkin diterjemahkan ke dalam pengembangan untuk pertama kalinya.
Benar saja, jalan yang dibangun kembali dan sekolah-sekolah didirikan. Sementara itu, bank-bank Barat memberikan pinjaman tanpa menuntut transparansi, dikenakan suku bunga lebih tinggi dan bahkan mengekspor minyak Angola, memastikan uang yang terus mengalir ke pundi-pundi politisi.
Keterlibatan Cina di Angola sekaligus mengkonter klaim IMF sebelumnya bahwa Cina hanya menjarah kekayaan Afrika, dan hanya membangun infrastruktur dalam rangka mengangkut keluar sumber daya alam. Minyak Angola berlokasi pada lepas pantai, namun Cina telah membangun rumah sakit, sekolah sistem irigasi, dan jalan darat.
Memang, tidak seperti donor Barat, yang cenderung memiliki negara favorit mereka, Cina telah memberikan bantuan ke setiap negara di sub-Sahara Afrika - kecuali negara-negara yang mendukung Taiwan, dengan siapa Cina telah terlibat dalam sesuatu dari perang penawaran pinjamanndi seluruh benua.
Kasus Angola menunjukkan dua tema yang muncul jelas dari buku penting ini. Pertama, kemunafikan tak berujung Barat seperti jam tangan perjalanan panjang dari Cina melalui Afrika. Para kritikus, sering sayangnya kurang informasi, mengabaikan sejarah Barat sendiri yang eksploitasi, mendorong korupsi dan mendukung rezim menjijikkan.
Bahkan setelah 60 tahun bantuan Barat, masih ada keengganan untuk menerima kegagalan untuk mempromosikan pembangunan atau mengatasi kemiskinan. Kedua, ada wawasan yang menarik dalam cara Cina mengembangkan kebijakan, cetakan mereka untuk pengalaman, mendengarkan kritik dan tidak pernah takut untuk bereksperimen dalam mengejar tujuan jangka panjang. Seperti kata Deng Xiaoping dalam penggalian di lompatan besar Mao, jika Anda melintasi sungai yang terbaik adalah dengan menjaga kaki Anda di bagian bawah dan merasakan batu-batu.
Brautigam mengatakan strategi Cina, berdasarkan model yang sudah diuji di negara sendiri selama pertumbuhan fenomenal, dirancang untuk memenuhi tiga tantangan. Pertama, untuk memasuki kekayaan alam Afrika karena pertumbuhan Cina melampaui sumber daya sendiri. Kedua, untuk meyakinkan negara-negara berkembang lainnya bahwa sementara Cina adalah kekuatan yang meningkat, itu adalah sebuah kekuatan yang bertanggung jawab - sementara juga menghadapi tantangan Taiwan. Dan ketiga, untuk menciptakan pasar baru bagi perusahaan multinasional yang baru lahir.
Diperkirakan, ada sekitar 3.000 pekerja bantuan Cina, termasuk 34 ahli medis. Tidak seperti pekerja bantuan Barat, mereka hidup dalam gaya yang serupa dengan penduduk setempat. "Bagaimana Anda dapat mengurangi kemiskinan, tetapi tinggal di sebuah hotel bintang lima?" kata seorang ahli Cina tajam.
Pada akhir 1980-an, saat perusahaan Barat ditarik keluar dari apa yang dicap sebagai "benua gagal" Afrika dan bantuan untuk infrastruktur mengering, Beijing justru melihat Afrika sebagai tanah berpeluang. Barat gagal melihat tim Cina mengelola pabrik-pabrik milik negara, membangun jembatan dan memperbaiki sistem irigasi. Pasar di seluruh benua mulai menjual tekstil dan mangkuk logam dibuat di Cina.
Metode Cina yang ketat. Ketika Liberia meminta Cina untuk merehabilitasi pabrik gula tebu dan perkebunan, itu mengharapkan sebuah respon cepat dan positif. Selama dekade terakhir, hubungan antara Cina dan Afrika telah semakin rapat, dengan modal politik yang cukup besar diinvestasikan pada kedua sisi.
Beberapa tahun kemudian, sektor kulit berkembang pesat dan perusahaan sepatu yang masih hidup telah diasah sampai bersaing secara efektif. Brautigam juga menunjukkan kasus menarik, bahwa sementara ada kekhawatiran atas jumlah orang Cina yang bekerja di Afrika, terutama pada tingkat yang lebih senior, tingkat staf Cina menurun dari waktu ke waktu dan pekerjaan lokal didorong.
Penulis menyimpulkan bahwa Afrika merangkul Cina sangat strategis, jangka panjang dan masih berkembang - dan itu terserah kepada para pemimpin Afrika untuk membentuk hubungan guna melayani tujuan mereka sendiri. Barat, katanya, harus mengakui kekurangan dari pendekatan sendiri dan belajar dari cara investasi Cina menggunakan, perdagangan dan teknologi sebagai tuas untuk pembangunan. (Rosdiansyah - peresensi Surabaya Readers Club)
Langganan:
Postingan (Atom)



